Mengapa Hijrah Itu Susah? Ini Penyebabnya

hijrah itu mudah yang sulit itu istiqomah

Hijrah secara harafiah berarti pergi atau meninggalkan, entah meninggalkan suatu tempat atau meninggalkan sesuatu yang tidak baik.

Akhir-akhir ini kata hijrah menjadi fenomena di kalangan anak muda, namun banyak yang belum memahami hakikat hijrah.

Dari Sahabat Umar bin Khatthab RA berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya sesuai ke mana dia hijrah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam salah satu kajian yang telah dibawakan oleh Syekh Ahmad Al-Mishry (Ulama Mesir)  menyampaikan tausiyahnya bertema hijrah mengatakan terdapat beberapa alasan penyebab susahnya melakukan hijrah.

Allah SWT Tuhan semesta alam berfirman dalam Al Qur'an yang artinya: "Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di Muka Bumi ini tempat Hijrah yang Luas dan Rezeki yang Banyak..." (QS. An-Nisa: 100)

Bagaimana dengan hijrah yang belum selesai? mengapa hal tersebut terasa lebih sulit? ingin hijrah tapi susah?


Kata Syekh Ahmad Al-Mishri, hijrah yang tidak sempurna selalu malu-malu karena belum ada pedomannya. Sehingga ilmu yang didapat selama melakukan hijrah belumlah lengkap.

“Jangan disangka dalam waktu singkat mengikuti pengajian atau pesantren bakalan langusng jadi ustadz/ustadzah. Ilmu itu dipelajari bertahun-tahun, bukan sehari-dua saja. Karena masih setengah setengah, diajak kesana kesini ayo, diajak ke masjid, diajak dangdutan maupun ngedugem ayo, seperti inilah yang masuk kategori hijrah yang masih setengah-setengah, ”kata Syekh Ahmad Al-Mishri.

Berikut akan diuraikan beberapa alasan mengapa kita terasa susah hijrah;

Niat belajar agama tidak tulus.

Hijrah itu sulit? Bergantung bagaimana cara pandang kita tentang proses hijrah. Misalnya, ada seorang seniman di zaman Jahiliyah, bahasa yang biasa dia pakai di depan kamera. Begitupun dengan hijrah masih tampil didepannya saja,  artinya niat belajar kita belum tulus.

Belajar itu harus ikhlas. Ada dua syarat untuk menerima amal. Dalam Tafsir Ibn Kathir di ayat 110 Sura Al-Kahfi, syarat untuk menerima amal adalah 2:
  • Ikhlas melakukan hijrah karena Allah Ta'ala.
  • Menjadikan Rasulullaah SAW sebagai suri tauladan dan mengikuti kebiasaannya.

Belajar agama bukan dengan Guru yang paham agama.

Banyak orang yang merantau belum selesai karena belum ada guru. Kesibukan yang tidak menyelesaikan studinya dan tertinggal. Ada yang belajar mengaji atau belajar tajwid selama sebulan dan belum selesai, mereka tidak lagi mengaji.

Semua ulama yang paham agam tentunya memiliki guru. Imam Abu Hanifah dari Irak, gurunya, memiliki sekitar 4.000 Masyaikh. Imam Syafi'i memiliki lebih dari 6.000 guru. Umurnya 15 tahun dan sudah menjadi mufti. Umur 7 tahun telah menghafal Alquran. Dia tidak bertemu Imam Malik namun telah menghafal Kitab yang ditulisnya. Imam Bukhari telah menghafal lebih dari 100.000 hadits.

Pengetahuan dicabut setelah kematian ulama. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullaah SAW berkata, “Jika Amanah sudah terbuang percuma, tunggu hari kiamat,” tanyanya, “Wahai Rasulullaah, bagaimana caramu menyia-nyiakan Amanah ini?” Ia menjawab, “Jika ada kasus yang diajukan ke bukan ahlinya, maka tunggu sampai hari kiamat!” (HR Bukhari)

Tanpa guru, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Penguasaan ilmu agama harus datang dari guru yang tepat. Setiap orang memiliki keahlian, wajib bagi seorang muslim untuk belajar dari guru yang baik dan berilmu sehingga kita akan memperoleh beberapa referensi dalam proses hijrah kita untuk mencapai level yang istiqomah.

Sekedar Mencari Tahu Ilmu, tetapi tidak mengimplementasikannya.

Mengaku belajar dari Ustaz Fulan, Syeikh Fulan, Habib Fulan, tapi tidak mengamalkan. Jika kita hanya sekedar belajar tentang apa itu hijrah, proses hijrah yang baik dan benar, tetapi jika tidak mengamalkannya maka itu sama saja dengan perbuatan yang sia-sia, dan tidak akan memberikan dampak pada diri yang hendak ingin melakukan hijrah.

Jangan masuk Aqidah dulu.

Hijrah itu mudah yang sulit istiqomah. Penyebab hijrah seseorang belum tuntas karena belum mulai belajar aqidah. Saya kurang paham aqidah, pernah belajar fiqh. Anda harus mempelajari Aqidah ringan seperti Aqidatul Awwam. Setidaknya kita punya kunci ilmu untuk bisa berdiskusi tentang buku lain.

Bergaul dengan teman yang tidak tepat.

Seseorang harus belajar dengan teman-teman yang saleh. Rasulullaah SAW bersabda: "Seseorang itu tergantung pada Agama Temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman." (HR. Abu Dawud)

Sangat memperhatikan penampilan.

Bukannya tidak diperbolehkan untuk memperhatikan zahir, tetapi kita juga harus memperhatikan isinya. jika Anda sholat, Anda harus mengenakan pakaian suci. Namun banyak orang hanya memperhatikan zahirnya, batinnya tidak diperhatikan dengan seksama.

Dari Abu Hurairah R, beliau bersabda bahwa Rasulullaah SAW pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah melihat pada hati dan amalan kalian." (HR. Muslim)

Demikan artikel tentang Mengapa Hijrah Itu Susah? Ini Penyebabnya yang dapat kami berikan pada postingan kali ini, semoga dapat bermanfaat dan menjadi referensi baru kita dalam menajalani proses hijrah yang istiqomah, semoga Allah SWT memberkahi dan meridhoi niat baik kita untuk melakukan hijrah ke arah yang lebih baik, Aaamiin ya rabbal alamiin.

Post a Comment

Previous Post Next Post