Menikah dengan tujuan menghindari zina, benarkah?



Dewasa ini, pernikahan muda sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pasti ada sebagian orang di sekitar kita yang memutuskan untuk menikah di usia muda setelah lulus kuliah. Bahkan ada yang baru lulus SMA/SMK.

Sebagian besar anak yang dinikahkan pada usia dini tidak kuat secara mental maupun materi. Dikhawatirkan saat mereka menikah akan sulit menyelesaikan masalah rumah tangga. Biasanya, kesulitan keuangan jelas akan menimpa hidup mereka. Jika materi belum cukup dan Anda sudah siap, jangan terburu-buru mengambil keputusan menikah di usia muda karena angka perceraian pernikahan usia muda sangat tinggi. Hal ini mungkin menjadi pertimbangan bagi mereka yang ingin menikah di usia muda.

Pernikahan bukan hanya tentang usia legal, cinta pasangan, atau cara untuk menghindari perzinahan. Namun, niat menikah itu hanya untuk Allah SWT. Saat menikah, kalian harus bisa berkomitmen untuk menjaga perasaan masing-masing agar pernikahan langgeng dan diridhoi Allah SWT.

Batasan usia menikah diatur pemerintah dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 6 yang kemudian diperbarui dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019. Dalam ajaran Islam, perkawinan sangat dianjurkan karena Allah SWT menciptakan manusia berpasang-pasangan. Bagi yang sudah cukup umur, siap mental dan finansial, disarankan untuk segera menikah jika sudah memiliki calon. Daripada harus pacaran lama dan menumpuk dosa, lebih baik menikah saja agar tidak menimbulkan fitnah.

Padahal, menikah itu lebih baik dari pada pacaran, yang sangat jelas dilarang dalam Islam karena merupakan perbuatan zina. Namun, untuk menikah juga harus memiliki persiapan mental, finansial dan usia yang matang agar bisa lebih baik dalam membangun rumah tangga. Menikah muda bukanlah solusi yang tepat untuk menghindari zina.


Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, sesuatu yang hanya bisa dilakukan seumur hidup dengan pasangan yang kita cintai. Jangan merusak pernikahan Anda karena awal yang buruk. Awal mulanya hanya dengan niat untuk menghindari zina dan menghindari fitnah. Padahal, kita sebagai manusia normal pasti memiliki nafsu, apalagi yang masih menginjak usia remaja. Umumnya, mereka sulit mengendalikan nafsu sehingga bisa mengarah pada hal-hal buruk. Karena itu, banyak anak muda yang memutuskan untuk menikah muda, baik karena kesepakatan bersama atau karena 'kecelakaan'.

Sebenarnya ada tips atau upaya yang bisa dilakukan untuk meredam nafsu remaja yang tidak bisa dikendalikan. Nafsu adalah penyebab banyak kasus pernikahan yang tujuannya hanya untuk bersenang-senang. Triknya adalah puasa. Saat berpuasa, kita lebih memilih untuk fokus pada rasa lapar daripada nafsu. Selain puasa, ada cara lain untuk mengekang syahwat yaitu melakukan hobi atau aktivitas lain yang belum pernah dicoba. Bergabung dengan organisasi juga dapat meredam gairah.

Dengan bergabung dalam sebuah organisasi, kita terlibat dalam kegiatan organisasi sehingga kita melupakan passion kita. Selain itu manfaat lainnya adalah menambah pengalaman, memperluas wawasan dan menambah banyak teman. Dengan menyibukkan diri seperti ini, setidaknya pikiran kita bisa teralihkan dari pikiran kotor dan keinginan menikah muda, saat kita tidak cukup secara finansial dan mental.

Tanpa persiapan yang matang, karena tujuannya hanya untuk menghindari perzinahan, akan kemanakah pernikahan ini? Lebih lanjut, sebagian besar pelaku pernikahan usia muda adalah para remaja yang masih duduk di bangku sekolah atau baru saja lulus sekolah. Dari mana Anda ingin mendapatkan uang?

Beberapa orang tua diberitahu bahwa dukungan dapat datang setelah menikah. Ini benar. Namun, jangan terpengaruh oleh kata-kata seperti itu. Sehingga kita lupa bahwa persiapan materi atau keuangan sebelum menikah sangatlah penting. Setidaknya sebelum menikah, atau setelah menikah, kita harus bisa punya rumah sendiri, tidak menumpang di rumah mertua. Hidup dengan mertua itu tidak baik. Semuanya harus mertua yang akan memperbaikinya. Apalagi kalau perempuan yang tinggal dengan mertua, pasti sangat risih jika mereka membenahinya.

Nah, itulah pentingnya kecukupan finansial sebelum menikah. Sehingga kita mandiri, tidak bergantung pada orang tua. Apalagi bagi mereka yang baru lulus SMA/SMK, pekerjaan sangat sulit didapatkan. Ya, karena mereka baru lulus, belum punya pengalaman. Kalaupun mau menginap di rumah mertua juga tidak masalah. Namun, di sini pikiran kita diuji. Sifat orang memang berbeda-beda. Ada yang ramah, begitu pula sebaliknya. Untungnya, kalau kita punya mertua yang sayang sama kita, mental kita aman. Bagi yang mertuanya kebalikan? Apakah kamu tidak pusing?

Baca juga: Komputer forensik sedini mungkin mengenali kejahatan remaja
Seperti yang sudah dibahas di atas, bukan hanya persiapan keuangan yang diperlukan sebelum menikah, tetapi persiapan mental juga harus disiapkan. Kebanyakan anak muda, ketika mereka pergi keluar dan bertunangan, bayangkan betapa indahnya itu. Namun, kehidupan pernikahan itu rumit.

Kebanyakan pasangan, jika belum menikah, hanya menunjukkan kebaikan untuk menarik simpati pasangannya. Saya tidak tahu apakah itu benar atau dibuat-buat. Namun, saat menikah, sifat atau kebiasaan buruk yang sebelumnya tidak terlihat akan berangsur-angsur muncul. Apa yang awalnya patuh menjadi agak memberontak. Mereka yang awalnya berpartisipasi dalam keputusan apa pun yang mereka buat menjadi pendukung bersama untuk keinginan mereka.

Hal ini nantinya dapat menimbulkan perselisihan. Butuh kedewasaan untuk menghadapi masalah seperti ini. Jika tidak, rumah tangga akan berantakan dan berujung pada perceraian.

Membangun rumah tidak semudah yang dibayangkan. Anak muda cenderung ingin menghabiskan masa mudanya dengan bersenang-senang. Setelah menikah, jika Tuhan memberikan amanah, anak siap atau tidak, mereka harus menjaga amanah itu. Tentu tidak mudah membesarkan dan mendidik anak. Jika Anda tidak siap secara mental dan finansial, tentu akan membuat stres, tidak bahagia seperti yang Anda harapkan di awal.

Padahal, ada aspek positif dan negatif dari melakukan pernikahan di usia muda. Positifnya adalah kita bisa berkomitmen pada pasangan kita, menghindari zina berkepanjangan dan dampak positif lainnya yang bisa mengantarkan pernikahan ke jalan yang diridhoi Allah SWT.

Dampak negatifnya adalah tidak siap mental bisa berujung pada perceraian. Selain minimnya keuangan, membuat pasangan sulit menjalani kehidupan berumah tangga. Menikah muda boleh saja, yang penting kita semua sudah siap. Mulai dari fisik, mental, finansial, dan pendidikan. Jangan menikah hanya untuk menghindari perzinahan, jangan berpikir tentang apa yang Anda miliki.

Post a Comment

Previous Post Next Post